
Penulis : Dyah Ummi Purnama
Penerbit : Visimandiri
Harga : Rp 50.000,00
Halaman : 112 halaman



Mau kenalan dengan penulisnya langsung? Kunjungi saja blognya yang keren ini.. :D
http://dyahumiyarni.blogspot.co.id/
Semoga bermanfaat ^_^




Hari ini adalah hari ke empat. Gadis itu kembali berkutat dengan mesin ketiknya. Hampir 20 halaman, terisi sudah. Minimal kurang 130 halaman lagi. Satu hari 5 halaman. Ia merekahkan senyum, puas. Secangkir coklat panas setia menemaninya, tergeletak anggun di atas meja bersama secarik kertas dan sebuah pena.
Mata bulatnya terus berlari, dari page 1 ke page yang lainnya. Kembali membaca ulang isi cerita dari a sampai z. Memastikan tidak ada satupun yg terlewat untuk dicatat. Sebuah sejarah kehidupan, yang terkumpul dari potongan-potongan kejadian. Haru, sedih, bahagia. Tentang impian, kenangan, janji, perasaan, kepercayaan, rencana masa depan, cinta, harapan, kepalsuan, kegetiran, dan sebuah langkah baru, sebutlah ia langkah kebangkitan.
Membutuhkan waktu hampir satu tahun dan entah bepapa ratus ribu menit untuk melengkapi endingnya. Ending? Ah sepertinya bukan. Mungkin lebih tepatnya disebut awal dari sebuah kisah baru, langkah baru, semangat baru, dengan sebuah mimpi yang tetap utuh. Satu bulan, sepertinya cukup untuk merangkumnya kembali, menuangkan semuanya ke dalam sebuah benda yang disebut kenangan abadi. Tak bersisa.
Dan kali ini, setiap hari selama satu bulan ke depan akan menjadi hari-hari pengenangan. Dimana setiap potongan kejadian kembali berputar gesit dan mendarat anggun di tempat yang disebut otak. Benda yang selalu bekerja tanpa diperintah. Hingga ia kembali hadir menjadi satu kesatuan yang utuh, sebagai kenangan, pembelajaran, pengetahuan, energi positive, dan sebuah pendewasaan.
Selamat tinggal kenangan. Selamat datang impian. Terima kasih untuk setiap inspirasi. I'll do my best. ^_^
Dalam catatan gadis bermata bulat.
Oleh El Fayruz
R U M A H K I T A
(oleh: Cak Nun)
Kita bukan penduduk bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi,
tapi kita berasal dari syurga.
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah,
kembali ke kampung halaman.
Dunia bukan rumah kita,
maka jangan cari kesenangan dunia.
Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali kerumahnya.
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
Lantas, apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?
Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?
Kita tidak berasal dari bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Rumah kita jauh lebih Indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan,
dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita.
Ada istri sholeha serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.
Mereka rindu kehadiran kita,
setiap saat menatap menanti kedatangan kita.
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail.
Kapan Keluarga mereka akan pulang.
Ikutilah peta (Al Qur'an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan.
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya iblis Laknatullah yaitu neraka
Kita bukan penduduk bumi,
kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan.
Kembalilah ke rumah.