Laman

Label

Selasa, 02 Februari 2016

[Review] Edukasi Gizi Anak Lewat Cerita

Judul        : Cerita Anak Terbaik Sepanjang Masa, Seri Aku Anak Sehat
Penulis      : Dyah Ummi Purnama
Penerbit    : Visimandiri
Harga       :  Rp 50.000,00
Halaman  : 112 halaman
Dalam dunia yang serba instant, tidak hanya anak-anak, bahkan kebanyakan dari orang tua juga abai dengan kandungan gizi dari konsumsi anak. Sebagian besar orang menganggap yang terpenting adalah serba instant, menghemat tenaga dan waktu. Sedangkan bagi anak-anak, makanan yang memiliki tampilan menarik dan rasa yang enak lah yang selalu menjadi pilihan menu utama, meskipun makanan itu justru tidak memiliki kandungan gizi yang baik. Oleh karena itu, penting sekali mengenalkan gizi yang baik kepada anak-anak itu sejak dini. Karena segala hal perlu pembiasaan, begitu juga dengan pola hidup sehat. 


Susah menerapkan pola hidup sehat kepada anak-anak? Atau susah membiasakan anak-anak makan makanan yang sehat dan bergizi? Hampir setiap orang tua pasti pernah mengalaminya. Tapi, tentu saja selalu ada cara yang menarik untuk menarik minat anak-anak terhadap makanan yang sehat dan penuh gizi. Salah satunya adalah melalui buku cerita yang ditulis oleh Mbak Dyah Ummi Purnama ini. Buku cerita yang berjudul "Cerita Terbaik Sepanjang Masa, Seri Aku Anak Baik" penuh berisi tentang edukasi gizi untuk anak-anak.

Melalui cerita yang didukung dengan gambar yang menarik, akan membuat anak-anak lebih mudah tertarik untuk mempelajari sesuatu. Anak-anak cenderung penuh dengan ruang imajinatif dalam dirinya, sehingga dengan cerita dan gambar, akan lebih mudah merangsang rasa ingin tahu dan ketertarikannya terhadap suatu hal. Begitu juga dengan pelajaran tentang gizi.
Nah, dalam buku ini, ada banyak cerita menarik yang mengandung pengetahuan penting bagi anak-anak. Salah satunya berjudul "Rabun Ayam karena Suka Makan Ayam?" Ceritanya tentang seorang anak yang bernama Dani. Ia sukar melihat ketika hari telah senja, seperti penyakit rabun yang diderita oleh ayam. Jika didengar dari nama penyakitnya, sama halnya dengan kebanyakan anak lainnya, Dani juga mengira bahwa penyebab rabun ayam adalah karena suka memakan mata ayam. Padahal, tentu tidaklah demikian. Akhirnya, setelah Dani membaca buku ensiklopedia, ia jadi mengerti bahwa penyebab rabun ayam yang dideritanya itu disebabkan kekurangan vitamin A.

Selain cerita tentang rabun ayam, masih ada cerita tentang penyakit beri-beri, kurang darah, sariawan, dan lain-lain. Semuanya tersaji dalam cerita-cerita yang unik dan menarik. Penasaran dengan cerita lengkapnya, dan aneka vitamin dan gizi apa saja yang ada? Nah..., baca langsung bukunya, ya!
Buku anak ini sangat direkomendasikan sebagai bacaan utama untuk anak-anak. Karena selain cara bertutur ceritanya yang tidak jauh dari dunia anak, mudah dipahami, tentu saja bisa banyak membantu dalam mengatur pola hidup sehat bagi anak-anak. Dalam setiap kisah, diselipkan pengetahuan mengenai aneka vitamin, pentingnya vitamin yang cukup bagi tubuh, akibat kekurangan vitamin dalam tubuh, kandungan vitamin yang ada dalam makanan, dan yang paling asyik, ada resep makanan yang mudah dan bergizi tinggi. Jadi, selain mendapat ilmu pengetahuan yang banyak, anak-anak juga bisa praktek membuat makanan yang bergizi untuk dirinya sendiri. Oh iya, yang paling seru, ada bonus lembar aktivitas dan kartu kwartet aneka sumber vitamin lho! Jadi, masih mau ketinggalan baca buku ini? Oh tidaaak!!



Mau kenalan dengan penulisnya langsung? Kunjungi saja blognya yang keren ini.. :D
http://dyahumiyarni.blogspot.co.id/
Semoga bermanfaat ^_^

Minggu, 13 Desember 2015

Berkenalan dengan Hasna

Assalamu'alaikum...
Alhamdulillah, bebberapa waktu lalu, isti menang kuis berhadiah komik Hasna dari penulisnya langsung, yaitu Mbak Linda Satibi. Nah, sekarang giliran isti ajak teman-teman berkenalan dengan Hasna. Yuuuk.. ^_^
Nah. Ini cover bukunya. Hasna imut ya, cantik dengan pita di kerudungnya.

Kamis, 12 November 2015

Sapiko yang Pemalas



Pagi yang sangat cerah. Seperti biasa, setiap hari Minggu, Pak Jaiko menggembalakan sapi-sapi ternaknya di lapangan dekat rumah. Sapi Pak Jaiko ada sepuluh ekor. Semuanya sangat penurut, kecuali yang bernama Sapiko. Sapi jantan berwarna coklat yang pemalas. Setiap hari kerjaannya hanya makan sambil tidur-tiduran di kandang. Ia tidak pernah mau ikut bergembala di tanah lapang seperti sapi yang lainnya.

Senin, 07 September 2015

Redaksi

Teknis Standar Pengiriman Naskah
Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.

Kamis, 03 September 2015

Gadis Rembulan

Gadis rembulan
Duduk sendirian
Di temaram lampu bolam

Gadis rembulan
Paras menawan
Tampak dari kejauhan

Senin, 31 Agustus 2015

Gadis Kecil dan Tembok Raksasa

Di balik tembok raksasa
Nasi masuk tong sampah
Gadis kecil merintih
Lapar menyayat perih
Di balik tembok raksasa
Orang-orang berpesta

Kamis, 20 Agustus 2015

Tentang Mimpi

Pagi ini, tiba-tiba pengen baca ulang sebuah buku antologi yang berjudul jangan manja. Di situ saya terperangah oleh sebuah kisah perjuangan Mbak Belgis dalam meraih semua mimpinya. Tak mudah, itulah hidup. Tapi saya sungguh merasa salut dengan keyakinannya yang begitu kokoh tentang pencapaian semua mimpinya. Tentu sangat berbeda dengan saya, yang tak pernah berbuat apa-apa dengan mimpi saya. Bahkan entah seperti apa impian saya yang sebenarnya.

Rabu, 19 Agustus 2015

Jangan Menangis

Kenapa kau masih menangis, nduk?
Bukankah balon itu pilihanmu
Lihatlah, warnanya ungu
Persis seperti tas dan bajumu
Mendongaklah ke atas...

Merdekakan diri

17 Agustus 1945 kembali menjadi moment bersejarah yang tak terlupakan bagi tiap penduduk Indonesia. Tepatnya 12 tahun silam. Di tanggal yang sama, hari, dan tahun yang berbeda. Namun kemeriahan tetap sama. Gegap gempita perayaan kemerdekaan yang membahana di seluruh pelosok negeri.
Langit nampak ikut bergembira, bersorak membagi tiap semburat sinarnya ke bumi pertiwi. Awan-awan putihr berarakan saling kejar. Dedaunan ikut melambai senang bersama hembusan angin, mencipta suara gemerisik merdu saat berpadu dengan cicit burung pipit.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Puingan Sajak Rindu

Langit sendu menawan sepotong rindu. Gemerisik dedaunan mengundang syahdu. Awan mulai menjatuhkan rintiknya. Berdebam perlahan membuat tanah menjadi basah. Sorak riang kicau burung membelah angkasa. Tunggang langgang saling kejar, berbagi tempat untuk merebah.

Gadis itu hanya termangu. Menatap hambar alam yang mulai menggigil. Tatapannya kosong. Menerobos remang-remang gumpalan kabut yang hilir mudik memadati tiap sudut pandang melintang.
Kali ini, bukan lagi karangan imajinasi tentang serangkaian alur kisah cinta seseorang yang terlukis di dalam benaknya. Atau, imajinasi seorang gadis bermata bulat yang merubah bentuk purnama menjadi persegi. Bukan. Bukan tentang serangkaian imajinasi lagi.

Jumat, 07 Agustus 2015

Warna Warni Rasa

Warna warni rasa hatiku..
Bagai si putih yang terbias menjadi mejikuhibiniu
Kelabu dan hitam pun telah menjadi satu
Melengkapi, mewarnai..
Laksana imajinasi yang terbang tinggi
Mengalir merebah manis getir hati
Inilah warna warni rasa hatiku..
Pagi yang indah bersama senyum sang mentari..
Aku tetap berjalan dengan pilihan rasaku..
Warna warni bak pelangi pagi..

El Fayruz



Wa

Kamis, 06 Agustus 2015

Sebuah Catatan

Hari ini adalah hari ke empat. Gadis itu kembali berkutat dengan mesin ketiknya. Hampir 20 halaman, terisi sudah. Minimal kurang 130 halaman lagi. Satu hari 5 halaman. Ia merekahkan senyum, puas. Secangkir coklat panas setia menemaninya, tergeletak anggun di atas meja bersama secarik kertas dan sebuah pena.

Mata bulatnya terus berlari, dari page 1 ke page yang lainnya. Kembali membaca ulang isi cerita dari a sampai z. Memastikan tidak ada satupun yg terlewat untuk dicatat. Sebuah sejarah kehidupan, yang terkumpul dari potongan-potongan kejadian. Haru, sedih, bahagia. Tentang impian, kenangan, janji, perasaan, kepercayaan, rencana masa depan, cinta, harapan, kepalsuan, kegetiran, dan sebuah langkah baru, sebutlah ia langkah kebangkitan.

Membutuhkan waktu hampir satu tahun dan entah bepapa ratus ribu menit untuk melengkapi endingnya. Ending? Ah sepertinya bukan. Mungkin lebih tepatnya disebut awal dari sebuah kisah baru, langkah baru, semangat baru, dengan sebuah mimpi yang tetap utuh. Satu bulan, sepertinya cukup untuk merangkumnya kembali, menuangkan semuanya ke dalam sebuah benda yang disebut kenangan abadi. Tak bersisa.

Dan kali ini, setiap hari selama satu bulan ke depan akan menjadi hari-hari pengenangan. Dimana setiap potongan kejadian kembali berputar gesit dan mendarat anggun di tempat yang disebut otak. Benda yang selalu bekerja tanpa diperintah. Hingga ia kembali hadir menjadi satu kesatuan yang utuh, sebagai kenangan, pembelajaran, pengetahuan, energi positive, dan sebuah pendewasaan.

Selamat tinggal kenangan. Selamat datang impian. Terima kasih untuk setiap inspirasi. I'll do my best. ^_^

Dalam catatan gadis bermata bulat.
Oleh El Fayruz

Sabtu, 01 Agustus 2015

Gadis Kecil itu Bernama Syifa


Gadis kecil itu bernama Syifa. Sosok gadis yang cantik dengan matanya yang bulat. Entah kenapa aku selalu suka menatap bocah bermata bulat. Usianya masih empat tahun. Dan bulan ini adalah bulan pertama ia menduduki kelas TK A.
Siang tadi, aku berkunjung ke rumahnya bersama temanku. Berbagai macam hal mengagumkan kutemukan di sana. Dengan setiap kesederhanaan yang terpoles di tiap sudut ruangan. Dan berbagai suguhan kisah yang membuat hati terpana dan ternganga.
Hari lebaran memang selalu menjadi hari kemerdekaan bagi anak-anak. Dimana seperti tradisi pada umumnya, setiap anak-anak kecil akan mendapatkan angpao lebaran. Berupa lembaran-lembaran rupiah yang didapatkan saat berkunjung ke rumah sanak saudara. Sama halnya dengan Syifa. Ia juga tak melewatkan momentum lebaran untuk berbahagia saat memiliki lembaran dengan rupiah yang ia peroleh.
Namun, ada yang sangat berbeda dengan gadis kecil itu. Disaat anak-anak sebayanya sedang sibuk menghitung uang saku lebaran, kemudian berbondong-bondong membeli berbagai macam mainan. Atau, sibuk menghabiskan uang mereka untuk jajan di sepanjang jalan. Tapi tidak dengan Syifa.
Setiap kali ditanya, “Uang lebarannya mau dibuat apa Syifa?”.
Gadis kecil itu akan selalu memiliki sebuah jawaban yang sama.
“Uangnya untuk amal, menabung, dan beli jajan” cetusnya.
Aku hanya bisa tercengang kagum mendengarkan jawaban dari mulut gadis sekecil itu. Sedari kecil, ia memang telah dibiasakan untuk beramal kepada siapapun yang membutuhkan. Bahkan, ia selalu terheboh-heboh minta uang ke Mamanya setiap kali melihat sebuah kotak amal bertengger di Masjid, Musholla, tempat mengaji, atau dimanapun ia berada. Dan ia akan mendadak pasang muka cemberut saat shalat ke masjid, sedangkan tak ia temukan sebuah kotak dengan lubang kecil di atasnya. Itulah Syifa, gadis kecil yang berhati mulia.
Beberapa waktu lalu, ada seorang temannya yang telah ditinggal orang tuanya. Tak lagi memiliki Mama dan Papa yang bisa membelikannya sepatu atau tas baru. Dengan sangat bersenang hati, Syifa merogoh uang tabungannya untuk dibelikan sebuah tas baru. Tas sekolah untuk teman sebayanya.
Mamanya selalu berkata, “Kalau Syifa pengen apa-apa, mintalah sama Allah”
Dia mengangguk.
Beberapa waktu lalu, Syifa meminta kepada Allah agar Ayahnya dibelikan sepeda motor baru. Dan Alhamdulillah, kini doa Syifa telah terwujud. Ia pun kini mengganti permintaannya. Syifa ingin punya rumah, biar tidak mengontrak lagi.
Begitu kagum dan penasaran dengan cara yang digunakan oleh orang tuanya untuk membesarkan gadis kecil itu. Hingga ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Gadis bermata bulat dengan hati bak malaikat. Syifa, begitulah aku memanggilnya.
Tak hanya itu, Syifa sangat enggan untuk makan sambil berdiri. Jadi, setiap kali ia membeli makanan di luar, ia akan membawanya pulang ke rumah agar bisa memakannya sambil duduk. Tak peduli, meskipun teman-temannya bisa dengan enjoy memakan jajan di sepanjang jalan. Syifa, begitulah aku memanggilnya. Gadis kecil bermata bulat, dengan hati bak malaikat.
Rumah akan selalu menjadi taman bermainnya. Mamanya memang sengaja membatasi Syifa untuk terlalu sering bermain di luar rumah. Mengingat beberapa waktu lalu ia hampir terpengaruh dengan kata-kata tak patut yang diucapkan teman-temannya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain sendiri di dalam rumah.
Saat berada di halaman belakang, akan kau temukan Syifa sedang bermain dengan pasir. Mengaduk-aduknya dengan air. Ya.. cara mainnya masih sangat sederhana. Dan sepeda yang biasanya beroda empat, kini hanya tinggal tiga. Karena Ayah Syifa telah melepas satu roda belakangnya agar ia bisa segera lancar bersepeda. Namun, beberapa waktu lalu ia sempat terguling dari sepedanya, sehingga membuatnya sedikit takut saat mengendarai sepeda itu tanpa dipegangi. Jadilah aku tadi, membantu memegangi sepedanya agar Syifa tidak terguling lagi. Tetap berputar-putar di dalam rumah. Tadi, aku juga sempat ikut mengumpulkan potongan-potongan puzzle bersama Syifa. Menyenangkan bisa menemaninya bermain.
Tak ada mainan yang sia-sia. Begitulah prinsip yang diterapkan orang tua Syifa di rumahnya. Jadi, semua mainan yang dimiliki Syifa hanyalah mainan-mainan yang benar-benar memiliki manfaat dan mengasah kreatifitasnya. Dan tak akan kau temukan aneka Barbie berjajar di kamar Syifa. Karena ia hanya memiliki sebuah boneka Barbie, itupun karena dibelikan Neneknya. Ayahnya lebih rela membelikan Syifa sekeranjang lego, malam, atau setumpuk puzzle dari pada harus membelikannya sebuah boneka Barbie yang dirasa minim manfaatnya.
Hari ini, aku kembali mendapatkan sebuah sentilan manis dari Tuhan. Disaat aku mulai kikir, Tuhan pertemukan aku dengan peri kecil yang dermawan. Saat aku mulai lelah dengan usaha, Tuhan pertemukan aku dengan gadis kecil yang penuh semangat untuk belajar. Dan masih begitu banyak hal yang mengagumkan darinya. Syifa, gadis kecil bermata bulat. Peri kecil dengan hati bak malaikat.
Kini, aku mulai mengerti bahwa setiap kejadian yang aku lewati adalah sebuah proses pendewasaan diri. Bahwa dibalik setiap penundaan terkabulnya impian, pedihnya sebuah penantian, dan dibalik terhentinya sebuah pengharapan, ada berbagai hal yang harus aku pelajari. Allah hanya ingin aku lebih banyak belajar dan belajar dan terus belajar lagi. Bahwa masih ada banyak orang yang harus aku kenal sebelum benar-benar berlabuh. Salah satunya adalah Syifa. Gadis kecil bermata bulat dengan hati bak malaikat. Ialah peri kecil pendamai hati yang kerap tercuil oleh berbagai hal yang penuh misteri.
Terima kasih untuk perjumpaan hari ini Peri Kecil Syifa. Gadis bermata bulat dengan hati bak malaikat.

Sabtu, 1 Agustus 2012
Kamar, Ruang inspirasi

Aisyah El Fayruz @istfun

Jumat, 31 Juli 2015

Janji Palsu

"Bukankah engkau yang bilang bahwa akan terus menungguku?"
Mataku memerah, sisa menangis semalaman suntuk. Sembari menatap pahit sosok yang kupuja di depan mata. Aku.. yang benar-benar tak mengerti dengan apa yang sesungguhnya telah terjadi selama ini.

"Tapi apa? Justru kamu yang sudah membuatku begitu lama menunggumu."
Suaraku makin parau saat melanjutkan detil-detil kalimat itu. Gemerisik hujan yang menderas di seberang taman yang tak beratap itu seolah tak membuat riuh suasana. Semuanya hanya membisu mendengarkanku. Hening.

Kamis, 30 Juli 2015

Gantungan Baju

"Sejak kapan kau seka memakai gantungan baju warna merah?"
Ckckck.. Kiki terus tertawa sembari memegang setoples penuh keripik lumba-lumba. Ia menatap lekat seluruh isi kamar Putri yang mendadak jadi serba merah.
Putri hanya senyum-senyum nggak jelas. Sibuk memandang gadget dengan begitu antusias. Tak menggubris.
"Hei Put, sejak kapan kau jadi suka bola? Hahaha" Kiki masih saja berlanjut dengan ledekannya. Sembari suara kriuk-kriuk keripik lumba-lumba itu memekakkan telinga Putri.
"Ada deh, berisik ah.."

Kamis, 09 Juli 2015

Rindu Milenium

Aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberiku kesempatan untuk mengenal mereka. Keluarga Langit dan Anak-anak langit. Ponpes Roudhotul Jannah atau yang lebih akrab disebut Panti Milenium Sidoarjo. Tempat yang telah memberiku begitu banyak kisah, pengalaman, kenangan, dan berbagai kebersamaan yang takkan mudah terlupakan begitu saja. :D

11 Januari 2015 adalah hari pertama bagiku untuk bisa mengikuti kunjungan sosial bersama Keluarga Langit ke Panti Milenium, setelah beberapa bulan tak berhasil merayu orang tua untuk memberiku izin resmi berkota-kota. He, he, he... Kesan pertama yang menakjubkan :p

Aaaa... rasanya benar-benar rindu kebersamaan bersama mereka. Terakhir ikut kunjungan kesana tanggal 15 Februari 2015. Terhitung 5 bulan hanya bisa memandangi foto-foto narsis anak-anak KL bersama ke-unyuan anak-anak langit. Hikz :'(

Aku masih ingat, saat pertama kali bajuku ditarik-tarik bocah-bocah gundul plontos yang saling tuding dengan temannya sesama gundul plontos. Hihihi 

Kisahnya to be continued yaa.. dilanjut nanti lagi ceritanya, mau packing iyeehh :p

Minggu, 05 Juli 2015

Jangan Membuat Aku Menunggu

Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan dan membosankan bagiku. Wasting time. Apalagi saat harus menunggu tanpa adanya sebuah kepastian. Sungguh, rasanya akan menguras seluruh energi positive yang ada dalam diriku. Hingga yang tersisa hanyalah sebuah kekesalan karena telah dibuat menunggu. 

Jangan membuatku menunggu! Sebuah kalimat yang sering aku torehkan dalam berbagai tulisanku. Aku hanya tak ingin terlalu lama menunggu.

Sabtu, 04 Juli 2015

Sentilan Manis dari Allah

Pagi ini, tanpa sengaja aku membaca sebuah postingan seorang teman di dinding facebook. Ya.. dia adalah seorang yang kerap menegur dan mengingatkanku kala aku dalam sebuah kesalahan. Kembali lagi mendapatkan sebuah sentilan manis dari Allah melalui tulisannya. Sebuah tulisan tentang kehebatan seorang bapak. Sebuah tulisan yang menceritakan harmonisnya sebuah keluarga, tentang kasih sayang dan perhatian, dan tentang cara mendidik seorang anak.

Dear my future

Dear my future,
Terkadang diri ini menggila, hanya karena memikirkan sebuah purnama apa yang akan menghias langit malamku. Bahkan, untuk sedikit berkonsentrasi saja aku tak mampu. Hanya puisi tentangmu yang terbayang nyata dalam benakku. Dan bayangan menghabiskan hari-hariku bersamamu. Entahlah, aku tak benar-benar mengerti dengan apa yang sesungguhnya ada dalam benak pikiranku. Tetap bersikukuh menantimu, meski tanpa sebuah kepastian.

Rumah Kita


R U M A H    K I T A
(oleh: Cak Nun)

Kita bukan penduduk bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi,
tapi kita berasal dari syurga.

Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah,
kembali ke kampung halaman.
Dunia bukan rumah kita,
maka jangan cari kesenangan dunia.

Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali kerumahnya.

Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah?
Lantas, apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, Rabb yang mulia?

Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu padaNya yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapanNya?

Kita tidak berasal dari bumi,
kita adalah penduduk syurga.
Rumah kita jauh lebih Indah di sana.

Kenikmatannya tiada terlukiskan,
dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita.
Ada istri sholeha serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.

Mereka rindu kehadiran kita,
setiap saat menatap menanti kedatangan kita.
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail.
Kapan Keluarga mereka akan pulang.

Ikutilah peta (Al Qur'an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan.
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya iblis Laknatullah yaitu neraka

Kita bukan penduduk bumi,
kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan.
Kembalilah ke rumah.