Kali ini aku mau berbagi sebuah tulisan singkat, tentang pengalamanku disentil Tuhan.. Hehe
Pernahkah kau merasakan sentilan
Tuhan?
Ya.. inilah yang aku rasakan
kembali hari ini. Sebuah sentilan yang benar-benar nyata. Sebuah alaram yang
mengingatkan bahwa ada hal yang tidak benar dalam diriku saat ini.
Lagi-lagi tentang niat. Yups…
Niat yang kembali ternodai oleh hal-hal yang tak sepatutnya bersemayam dalam
diri. Kau tahu? Allah mempunyai begitu banyak cara untuk mengingatkan kembali
hambanya yang lalai. Untuk kemudian meluruskan kembali niatan-niatan yang mulai
bengkok dari jalur yang semestinya dilalui.
Tadi pagi, adalah sahur terakhir aku makan sepiring berdua bersama adik. Nanti siang, adik udah harus kembali lagi ke pesantren dan pulang ba'da lebaran. Kita memang selalu terbiasa makan sepiring berdua. Jadi, tiap buka puasa dan sahur, cukup menyiapkan 4 piring saja. Untuk Bapak, Ibu, Mas, sedangkan aku dan adik cukup satu piring.
Minggu kemarin, pagi-pagi sekali aku berangkat ke Malang. Masih pukul 05.00 pagi, udara masih sangat dingin dan langit pun masih sangat gelap. Waktu itu aku hendak menjemput adikku yang masih ada di pesantren untuk mendapat giliran libur selama satu minggu. Aku diantar kakak sampai di terminal Pandaan dengan mengendarai motor.
Ramadhan kali ini rasanya sungguh berbeda dengan Ramadhanku di masa kecil. Sepanjang perjalanan menuju Pandaan, tak nampak orang-orang yang berlalu lalang untuk sekedar jalan-jalan pagi. Mungkin, hanya ada beberapa orang saja yang kutemui sepanjang perjalanan. Suara merdu tilawah di surau-surau juga terasa tak seramai zaman dahulu. Saat aku masih duduk di bangku SD.
Siang ini, saat aku sedang tertidur pulas. Tiba-tiba, mbak sepupuku membangunkanku, dan mengajakku untuk mengunjungi bayi yang baru lahir. Putri kedua dari kawan masa kecilku, Wulan. Gadis yang lucu persis seperti kakaknya itu diberi nama Fahriyah. Tadi gapake foto, jadi potonya pake ilustrasi pas gendong keponakan yang bernama Azam :p